The Dark side of Previlage

Author : EkonomGalau

Setidaknya selama setahun ke belakang ini, istilah ‘privilege’ seringkali muncul untuk mendeskripsikan kelompok tertentu di masyarakat yang memiliki berbagai fasilitas lebih dibandingkan rata-rata masyarakat. ‘Kaum privilege’ tipikal diasumsikan sebagai mereka yang difasilitasi pendidikan yang berkelas, mereka yang jarang atau hampir tidak pernah merasakan kesulitan hidup karena masalah ekonomi – mereka yang hidupnya ekslusif. Menariknya lagi, mayoritas dari orang-orang ‘sukses’ adalah dari kalangan yang dapat dibilang privileged, seperti kisah hidup Nadiem Makarim, sosok yang berhasil mensukseskan GO-JEK, memang lahir di keluarga yang mampu mendukungnya untuk mengenyam pendidikan tinggi di Harvard Business School. Sebaliknya, kisah ‘Si Anak Singkong’ Chairul Tanjung lebih laku untuk dijual, mengenai bagaimana perjuangan dari yang awalnya kesulitan ekonomi hingga menjadi pebisnis sukses.

Dari dulu, kita cenderung memuja ‘kisah sedih di hari minggu’ mengenai perjuangan mereka yang merintis benar-benar dari bawah dan mencapai titik perubahan yang drastis. Kisah-kisah mereka yang mayoritas dijadikan acuan kisah inspiratif nan mengharukan, cenderung tidak banyak bercerita mengenai mereka yang dari awal memang terlahir di keluarga yang privileged.

Hm, memangnya mereka yang privileged tidak menarik?

Jika ada yang masih ingat, pernah boom thread di twitter mengenai sharing pengalaman menjadi asisten pribadi dari ‘Old Rich’. Asisten pribadi dari salah satu orang Crazy Rich di Jakarta, yang seharinya saja bisa memberi uang jajan jutaan ke anak yang masih umur SD. Tapi juga, keluarga ini ternyata sangat sangat menjunjung tinggi adab, sangat mendukung anak-anaknya untuk ikut sekian banyak kursus yang sangat padat, terus-menerus menyuruh anak mungilnya untuk mengembangkan skill mereka, alih-alih kebiasaan konvensional menyuruh anak untuk bersih-bersih rumah.

Bahkan studi di ekonomi pembangunan pun sangat biased membahas mereka yang ada di kalangan ekonomi bawah. Studi mengenai kemiskinan dan kebijakan penanggulangan kemiskinan, sudah seperti ensiklopedia sangat panjang dengan jutaan serinya. Sebaliknya, studi mengenai orang-orang kaya, mengenai mereka yang privileged? Sangat jarang, atau mendekati tidak apa.

Apa kita lupa bahwa isi negara ini bukan hanya masyarakat miskin yang harus diurus, tapi juga mereka yang privileged – dan menjadi sumber besar dari pendapatan pajak negara, bahkan? Bukankah justru psikologi dan pembelajaran mengenai mereka yang privileged ini yang ternyata lebih mengerakkan ekonomi kita?

Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya pemisahan jelas antara mereka yang privileged dengan mereka yang tidak privileged memang berakar dari masalah kesenjangan ekonomi. Lucunya, pada akhirnya pemisahan ini menjadi lingkaran yang tidak berujung. Banyak penelitian mengenai kesenjangan ekonomi melihat bahwa pola pernikahan juga menjadi penyebab semakin parahnya gap dari privilege. Mereka yang memiliki privilege akan cenderung mencari partner yang “se-kufu”, begitupun dengan mereka yang tidak. Misal sepasang suami istri dengan latar Pendidikan tinggi sama-sama berpenghasilan 20 juta, menikah, total penghasilan rumah tangganya menjadi 40 juta. Sebaliknya, suami istri dengan latar pendidikan biasa-biasa saja sama-sama berpenghasilan 3 juta, menikah, total penghasilan rumah tangganya adalah 6 juta – itupun dengan asumsi istri bekerja. Pilihlah yang se-kufu, tapi jadinya semakin sulit untuk menjembatani antara kedua kelas yang berbeda ini. Sebaliknya, fairytale seperti Cinderella yang menikah dengan pangeran (dengan kelas yang berbeda jauh) – bisa dibilang tampak seperti solusi mengurangi kesenjangan.

Eits, tapi yakin begitu?

Ingat bahwa sebelum ayahnya Cinderella meninggal, dia juga dari keluarga yang cukup berada, sampai-sampai ibu tirinya pun tertarik dengan harta ayahnya Cinderella? Bukankah kita juga bisa bilang bahwa sebenarnya Cinderella dilahirkan dan dibesarkan dengan privilege, walaupun kemudian privilege itu sempat dirampas, tetapi kemudian pertemuannya dengan pangeran ternyata hanya mengembalikan Cinderella ke tempatnya sebagaimana seharusnya, sebuah kursi dalam dunia privilege. Cinderella yang dibesarkan dengan idealisme ayahnya pun, memiliki nilai-nilai yang lebih kuat – seperti bagaimana dia tidak menjadi buruk seperti ibu dan saudara tirinya – dan tetap sabar dalam perjuangan. Sebaliknya, ibu tiri dan saudara tiri – yang mari kita asumsikan sebelumnya tidak se kaya raya itu, walaupun versi umum dari cerita ini jarang menjelaskan itu – yang tidak memiliki ‘mental’ sebagai seseorang yang privilege, yang seharusnya justru lebih tahu mengenai nilai-nilai yang jauh lebih penting dibandingkan harta. Mungkin karena privilege biasanya sudah mendapatkan kenyamanan dan harta yang lebih dari cukup, mereka memiliki kebebasan untuk eksplorasi hal-hal selain harta; kebebasan yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak memiliki privilege.

Tapi di sisi lain, apabila kamu memiliki privilege, ada sekian ketidaknyamanan lainnya yang mengiringi: selalu bertanya-tanya sampai batas apakah sebaiknya menjaga kerahasiaan mengenai privilege yang kamu miliki, berhati-hati dalam menganalisa siapa orang yang membawa maksud tertentu, berusaha mencari rasa untuk dimengerti dengan mereka yang dunianya sangat berbeda, kebingungan mengikuti pembicaraan dari yang-tidak-privileged… hingga yang paling menyakitkan, mungkin melihat perubahan drastis dari sikap seseorang setelah mengetahui tingkat privilege yang kamu miliki. Merasa teralienasi, hinggag akhirnya terjebak dalam suatu ekslusivitas. Lalu kembali, berpasangan dengan sesama privileged, dan kembali dalam lingkaran kesenjangan ekonomi tanpa ujung.

Oh iya, pantas saja ‘kisah sedih di hari minggu’ dan cerita si anak singkong tetap menjadi yang paling populer. Karena kisah itu, sedikit saja, memberikan harapan, sekecil apapun, bahwa ternyata lingkaran itu bisa diterobos.

Tinggalkan komentar