Cerita Tentang Manuskrip Amsterdam

Author : Pranaja Soeranto

Aku ingin bercerita tentang manuskrip Amsterdam yang baru saja kubaca, salah satu karya cerpen, karangan, bahkan siapa tau nantinya bakal jadi novel seperti: Drunken monster, Dilan dan sebagainya. atau entah apalah itu namanya. Siapa yang tahu jalan pikiran seorang Pidi baiq yang semaurnya dalam bercerita dan seenaknya dalam menulis. Saya membacanya di twitter. Sang imam besar mengirimkan link untuk menuju ke laman blog pribadinya yang amat saya sesali ketika sedang jatuh cinta dalam membacanya malah terdapat tulisan BERSAMBUNG.

Biar kuberitahu, Manuskrip Amsterdam bercerita tentang kehidupan seorang warga Indonesia yang kuliah di Belanda. Saya lupa nama tokoh tersebut karena selama membaca saya lebih terfokus pada kharisma, kecerdasan dan humornya yang pintar. Sejalan dengan tokoh-tokoh yang selalu dituliskan Pidi baiq dengan khasnya yang menitikberatkan pada persona orang tersebut yang membuat pembaca berdecak kagum tanpa perduli dengan tampilan atau fisik tokoh yang bersangkutan. Tak asing bukan? contohnya tak lain seperti: Dilan. Tapi bedanya, karya pidi baiq yang satu ini tidak sekalipun berbicara tentang cinta, tetapi: filsafat dan politik. Aneh. bukan? Tentu. Karena penulis wajarnya terlihat apatis dan sembrono. Kali ini seperti melihat ia seperti sosok yang berbeda.

Biar kuberitahu, saya tidak akan bercerita secara utuh tetapi, hanya ingin menghubungkan pemikiran sang tokoh yang fiktif ini dengan kejadian nyata di hidup saya. Yang kuingat tokoh tersebut laki-laki, Ia merupakan sosok yang cuek sekali dengan organisasi. dan tidak bakal terlibat di dalamnya. Entah karena alasan apa, yang jelas ia hanya ingin menjadi manusia yang merdeka. Mungkin sangat relate dengan organisasi sekarang ini, baik yang dulu pernah aku ikuti maupun sekarang yang sudah kutinggali, walau seyogyanya seumur-umur saya tidak pernah menjalani organisasi dengan serius, sekali lagi maafkan kekuranganku.

Hal yang membuatku salut dengan pemikirannya tentang politik yaitu, ketika ia duduk Bersama dengan temannya di salah satu café di Amsterdam. Saat itu sedang berlangsung sebuah acara, semacam pertemuan pelajar indonesia di Belanda. Si tokoh dan temannya itu melihat meja diseberang mereka terdapat beberapa orang pembesar organisasi yang sedang berkumpul dan bersikeras dalam beradu argumen. Mungkin salah satu diantara mereka tidak terima dan lainnya ngotot atau apalah itu, “sesuatu hal lumrah yang terjadi ketika hidup di alam demokrasi.” Sahut teman tokoh tersebut.

Lalu dengan tenang si tokoh tersebut membantah dan berkata, yang kutaksir begini sekiranya: “apanya yang alam demokrasi, jika tidak bisa menghargai dan mendengar pendapat orang lain. Bagiku, Mungkin menghargai adalah tahap pertama sebelum lanjut ke tahap ber-demokrasi itu.” DUARR NMEX! Dan masih banyak pemikiran tokoh yang bisa diambil, maka bacalah sendiri.

Mungkin Saya tidak ahli dan tidak berniat untuk cocokologi cerita itu dengan kisah hidup saya, apalagi dengan iklim demokrasi di Indonesia, saya tidak pandai menghubungkan suatu cerita dan membenarkannya seolah-olah terjadi dalam kehidupan nyata yang terpatri dalam pribadi seseorang seperti film Joker. Jiahh..

hal diatas terjadi karena ketidaksengajaan karena tiba-tiba saja akhir-akhir ini saya bertemu realita tersebut di persimpangan kehidupan dan terfikir untuk sekedar menuliskannya. Dan sekedar membengkokkan, akhir kata walaupun iklim politik Indonesia terlihat masih aman-aman saja, apalagi sekarang bersatunya oposisi dalam membangun negeri anjerr.. katanya, tapi satu hal yang perlu ditekankan jika demokrasi kita sudah benar-benar dewasa.

Satu saja pertanyaan saya, tentunya disertai kata sekedar mengingatkan dengan emoticon bertemunya kedua telapak tangan seperti sedang meminta maaf. “mengapa jika mahasiswa dan rakyat kemarin memilih menjadi oposisi dengan menyuarakan pendapatnya yang berbeda. Malah berjatuhan korban jiwa dan maut sebagai balasannya?”

Tinggalkan komentar