Author : MasPres
Cukup kontroversial penulis mengangkat tema. Haqul Yaqin pasti timbul Pra-Kontra atas tema ini. Padahal simple aja kok, sering denger gak sih stereotip yang berbunyi “Dokter pasti hidupnya pada sehat”? Alias, pekerjaan sebagai dokter dihubungkan dengan pola hidup sehat. Padahal ada aja tuh dokter yang merokok, dan sudah jelas, temen-temen perokok melihat di bungkusnya “Membahayakan bagi paru-paru” dan bla-bla-bla, pasti perkataan dari dokter.
Back to my opinion, kalo kita beranggapan dokter paling layak melakukan aktivitas kesehatan, kenapa gak kita kaitkan para budayawan, satrawan dan filsuf pada aktivitas keagamaan? Mengapa begitu? Bukankah mereka sering terlihat urakan, rambut gondrong, alkohol, klenik, dan seks? Terlalu sempit menghakimi para budayawan, sastrawan, dan filsuf jauh dengan Tuhan karena perbuatannya.
Bukankah mereka sering bicara tentang sentimen kemanusiaan? Mereka betul-betul berorientasi pada nilai kemanusiaan seperti perasaan, akal, dan cinta. Buktinya lihat saja para budayawan, sastrawan, dan filsuf kawakan atau bahkan yang sudah mati. Sebutlah Chrisye, manusia planet mana yang masih meragukan karya nya? Sepanjang dia menghabisi umurnya dengan melodi yang berjungkat-jungkit nun mengandung anasir kehidupan manusia dan cinta, namun di penghujung umurnya dia mulai meresapi hubungan pada Tuhannya.
Dalam tembang “Ketika tangan dan kaki berkata” siapa yang MN tahu bahwa saat pembuatan lagu ini di studio musik, dia menyanyi dengan syahdu bahkan menangis. Tembang ini dibuat atas penghayatan dia pada ayat yang terdapat di Al-Qur’an tepat nya surat Yasin. Kemudian sebutlah Chairil Anwar atas gubahannya yang berjudul “Doa”, sebagai tanda keputusannya menghayati kemanusiannya sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan.Sebutlah Plato dan Aristoteles sebagai filsuf yang mengakui ada nya ketuhanan.
So in my conclusion is, para seniman, sastrawan, dan filsuf yang aktivitasnya selalu meneriakkan kata “kemanusian”, teriakkan itu dekat dengan pengakuan bahwa mereka sebagai manusia yang paripurna. Disaat glamor modernisasi menggerus nilai kemanusiaan, mereka berteriak bahwa kita adalah makhluk yang memiliki identitas budaya, lalu arus modernisasi lewat film atau lagu dan lain-lain membuat kita lalai pada budaya sendiri. Disaat para elit mengangkangi proletariat, mereka berteriak tentang keadilan. Mereka berbicara bahwa kita makhluk yang membahu bukan menginjak. Lalu lengkaplah mereka berbicara bahwa kemanusiaan yang paripurna, adalah aktivitas keagamaan.

