
Author : MasPres
“Ah.. dasar lu bucin” begitu kurang lebih ungkapan orang yang gusar atas tingkah temannya. Tapi menurut saya, orang itu bukan sedang gusar, tapi sedang naif. Bukan berarti saya sedang melakukan pembenaran pada orang yang bucin, tapi honestly memang begitulah manusia. Setiap kita pasti memiliki periodik saat hati berjingkrak-jingkrak karena seorang wanita yang pesonanya mensilaukan roma Eaks…. Alias, penulis mau berkata bahwa manusia memiliki sisi emosional atau perasaan. Inilah yang membedakan kita dengan makhluk lain.
Easly, penulis mengartikan emosional bukan sekedar perasaan, tapi keinginan meluapkannya pula. Contohnya: “Dilaaan.. Aku rindu” huee… maka artinya, sisi emosional Milea bukan cuma kasih tau kalo dia rindu, tapi juga artinya dia mau ketemu. Meski dimuka, penulis memberikan contoh emosional adalah rasa cinta ke lawan jenis, tapi bukan hanya itu semata. Emosional adalah menggunakan perasaan secara mendalam.
Contohnya, emosional menghasilkan energi mengobarkan pergolakan revolusi. Setiap kejadian-kejadian besar pada sejarah dunia yang apapun itu, dimanapun itu, baik masa ini dan tempo dulu, pasti diawali sisi emosional manusia. Tetapi yang merasuki diri kita bukan saja hanya emosional, tapi egoisme.
Secara simpel, egoisme adalah keinginan menguasai dan menjaga. Mudahnya, lihatlah ibu kita. Mereka mencintai kita dengan egoisme, artinya tak mau kehilangan kita, dan tak mau masalah besar tertimpa pada kita. Juga mereka mencintai dengan emosional, artinya mengasuhi sepenuh hati.
Setelah kita mengetahui ada dua sisi koin yang merasuki tubuh, harus lah kita tahu bagaimana mengendalikannya. Contohnya bagi kaum Adam saat naik KRL, di satu sisi muncul egoisme kita untuk mendapatkan bangku, tapi ada wanita tua yang berdiri karena tak dapat bangku, maka hendaklah dimundurkan dulu egoismenya lalu dimajukan emosional nya. Artinya dengan emosional, kita merasakan menjadi seseorang wanita tua yang ingin diberi bangku. Tetapi jenak-jenak begini, kita ada di era egoisme menyala dan emosional meredup.
Dengan sisitem ekonomi kapitalis, terlahirlah gaya baru dalam penjajahan. Kalau imperialis dan kolonialis menjajah sebagai negara, maka kapitalis menjajah manusia sebagai individu. Para elit selalu berpikir pragmatis, tiap langkahnya berdasarkan keuntungan pribadi.
Bagaimana tidak? Toh hari ini, empat orang Elit yang bercokol di negara ini setara kekayaan nya dengan seratus juta warga miskin di Indonesia. Selama di sebuah negara terjadi kesenjangan yang parah, maka bukanlah mereka dinamakan elit, tapi penjajah! Merekalah yang mengedepankan egoisme, dibanding emosional. Elit saja yang lambungnya penuh dengan uang masih memuja egoisme, mungkinkah sinar emosional muncul dari warga miskin? Boro-boro merasakan menjadi orang lain, perasaan sendiri saja sudah nahas. Maka hari ini runtuh lah peradaban umat manusia.
Penulis yakin, kapitalis adalah bom waktu. Akan tiba adanya waktu, manusia tak kuat lagi memegang lambung yang kelaparan, lalu mereka biarkan emosional merasuki tubuhnya, lalu sama-sama mereka mengobarkan revolusi. Agar bumi dipijak oleh keseimbangan emosional dan egoisme.
