
Author : Afiq Naufal
Modernisasi dengan segala tools-nya adalah keniscayaan. Sehingga kita dituntut berpikir dengan gaya bepikir modern, yang konon katanya maju, cepat, efisiensi, efektif dan “keren.” Harus ada banyak pembaharuan di segala sektor sosial kita untuk menghadapi zaman hari ini, agar tak tertinggal dengan bangsa lain. Baik itu pembaharuan nilai, norma, struktur sosial, dan segala macamnya. Setidaknya begitu anggapan orang-orang modern ini. Tapi tidak sadar ada banyak nilai-nilai barat yang sudah terlanjur menghadapinya duluan yang sangat bertentangan dengan karakteristik orang timur. Contoh induvidualistik dan kokeluargaan. Namun, tentu tidak bisa kita benar dan salahkan sepenuhnya kepada kedua sisi ini. Tapi perlu digarisbawahi perlu satu keotetikan bangsa dalam menghadapi segala zaman. Agar ia terjaga lahir dan batinnya secara individual dan kolektif sebagai bangsa. Namun, bukan itu yang ingin saya kawinkan pada tulisan ini, saya ingin mengupas kultur sosial kita yang “keren” secara modern dan otentisitas. Ya, perihal romantisme picisan.
Apa yang terlintas dalam benak kita ketika menyebut romantisme. Atau picisan. Ataupun bagaimana bila keduanya dalam satu konteks. Saya mendapatkan yang terlintas dalam benak saya, berdasarkan pengalaman menghadapi perkawinan kata modernisme dan romantisme adalah satu hubungan yang disebut pacaran. Ditelisik dari sejarahnya orang-orang zaman dahulu ketika mendapati dirinya mencintai lawan jenisnya, terlebih kepada mereka yang pria, maka ia akan langsung datang menemui orang dan sanak saudaranya untuk dipinang. Kemudian muncul budaya baru yang waktu itu disebut pacaran untuk mengenal lebih jauh pasangan kita. Namun seiring berkembangnya zaman ada pergeseran, pacaran dilakukan untuk bersenang-senang semata. Sehingga yang terjadi ada banyak kebohongan yang tercipta. Orang berusaha tampil terlihat anggun, gagah, keren, ataupun terlihat berbeda dari kenyataannya. Dan karena tidak ada ikatan yang jelas mereka yang melakukan ini bebas-bebas saja berselingkuh, mengelabui, ataupun menghindar dari segala pertanggungjawaban. Padahal prinsip utama dari sebuah hubungan berlandaskan cinta dan kasih sayang adalah kejujuran dan komitmen. Sehingga pada dasarnya mereka tidak saling percaya sebagai induvidu dan membangun mindset secara kolektif tanpa kita sadari.
Satu budaya baru yang lahir dari sana pula yang disebabkan ulah modernism, adalah rupa-rupanya kita semakin pengecut sebagai manusia. Tidak berani mengambil tanggungjawab dan resiko terhadap apa yang telah kita lakukan. Harus tunggu matang dulu untuk melangkah, yang biasanya dimaksudkan adalah matang secara finansial. Tentu itu tidak salah sepenuhnya. Namun yang jadi soal, kesenangan jangka pendek ikut melangkah juga. Gonta-ganti pasangan tanpa berangkat dari sebuah komitmen melanggar prinsip kasih sayang secara menyeluruh. Budaya pragmatisme seperti itulah yang melahirkan kerusakan struktur sosial, nilai, dan norma yang berlaku. Tidak heran tentunya kita menyadari hal itu, sebab mereka para pejuang modern dengan mengikuti arus tanpa gambar besar, makan dan minum dari rahim pragmatisme.
Saya malah tidak setuju dengan mindset “harus matang” tersebut. Kalau sudah ketemu pujaan hati, marilah kita bangun komitmen! Sebab bukankah mereka yang sudah matang baik secara mental dan lahiriah terutama “finansial” yang ingin segera membangun komitmen, menghilangkan sisi romantisme ketika berbagi kasih sayang. Yaitu, merasakan susah-senang bareng, saling memahami satu sama lain, dan karakter manusiawi yang memperkokoh batu pondasi. Saya pernah mengatakan “perempuan diciptakan dengan rasa cemburu yang hebat, laki-laki diciptakan dengan keras kepala yang hebat, rasa cinta adalah rasa salah dan mengalah, bukan sebaliknya”. Jadi, potensi kita dalam melahirkan sum-sum romantisme dalam struktur tulang kasih sayang akan semakin kuat dan terjaga. Dan tentu orang yang sudah matang melahirkan hubungan yang terlalu banyak sifat bermanja-manjaan. Wong, sudah matang. Kata gusmus, “banyak pria mencari perempuan yang sempurna, banyak perempuan mencari pria yang sempurna, mereka tak menyadari keduanya diciptakan untuk saling menyempurnakan satu sama lain.”
Kultur ini telah menjadi mainstream baru bagi masyarakat modern. Telah menjadi dogma sosial bahwa mereka yang menikah muda atau menikah pada posisi tidak matang terutama pada finansial adalah orang kampung dan harus dibubarkan sebagai sebuah pemahaman yang tidak relevan. Sebab budaya pragmatisme masyarakat modern seolah menghilangkan sisi manusiawi kita sebagai mahkluk yang dilahirkan dan diturunkan untuk berkasih sayang. Dan yang lebih hebat untuk dipikirkan, ketakutan kita tersebut tanpa kita sadari, mereduksi keyakinan kita sebagai umat beragama yang yakin rezeki sudah diatur oleh yang di atas. Kata Sudjiwo Tedjo, “menghina agama bukanlah menjatuhkan martabatnya atau membanting kitab suci, besok tidak yakin akan makan saja itu sudah mengina agama.” Ada banyak sebenarnya kritik tentang kultur modern(berangkat dari kapitalisme) yang menggeser sifat manusiawi kita melalui otentisitas kultural. Misal saja hubungan kita antara pembeli dan penjual tidak ada tawar-menawar lagi yang melibatkan sisi manusiawi, ataupun karena segalanya bentuk teks, baik itu teks di media sosial atau di media manapun, omongan tak bisa lagi dipegang. Dan masih banyak lagi yang harus kita sadari sebagai induvidu yang diciptakan tuhan untuk saling menyayangi satu sama lain. Bukan mempermainkan satu sama lain berkedok kemajuan. Pecundang!
