Jeritan Hati Sebagian ‘Awardee’

Author : Ekonom Galau

Istilah ‘awardee’, entah sejak kapan walaupun cukup jelas mengapa, di Indonesia cukup umum diasosikan untuk mendeskripsikan sesorang yang mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Walaupun sebenarnya istilah ‘awardee’ ini bukan istilah baku untuk semua beasiswa; beberapa beasiswa memiliki nomenklatur yang cukup tegas untuk penerima beasiswanya: Scholar, Grantee, Recipient, dan yang lain. Tapi mengingat ada salah satu beasiswa yang paling dikenal di kalangan masyarakat, mari gunakan istilah awardee. Juga saya klaim ini jeritan hati sebagian dari para Awardee, karena saya cukup tahu bahwa banyak yang memiliki perasaan yang sama, walaupun belum cukup uji statistik untuk mengklaim bahwa ini adalah perasaan mayoritas.

Oke, waktunya menjerit

“Ketahuilah, kami ingin membantu. Tapi tolong bantu kami juga dalam usaha untuk menolongmu”

Pasalnya, ketika orang tahu bahwa kami mendapatkan beasiswa untuk ke luar negeri, muncul respon antusias dari orang-orang, baik yang dikenal ataupun masih asing, dengan berbagai pertanyaan mengenai bagaimana caranya kami berhasil mendapatkan itu. Dan ini, jelas, sesuatu yang bagus, bukan? Anak-anak muda penuh ambisi, berhasil terinsipirasi dengan melihat apa yang kami lakukan. Bahkan dengan mimpi-mimpi yang jauh lebih hebat dari kami. Yay! Dadah stigma anak muda yang hanya bisanya malas-malasan dan merusak hidupnya.

Sayangnya, niat yang baik perlu dijalankan dengan cara yang baik juga.

Ingat, Ketika kami ditanya, kami tidak hanya menjawab pertanyaan dari satu orang. Tapi banyak yang lainnya juga. Selain itu, masing-masing dari kami juga masih dalam struggling dalam kehidupan pribadi (percayalah, berhasil mendapatkan beasiswa kuliah keluar negeri tidak secara otomatis membuat hidupmu menjadi sukses, pasalnya hidup adalah tentang berusaha terus-menerus ). Jadi, tolong: baca sebelum bertanya.

Ya, baca. Banyak rekan-rekan yang sangat Lelah dengan pertanyaan seperti “untuk mendaftar beasiswa X, persyaratannya apa aja ya?”; “kak, aku pengen kuliah manajemen, bagusnya di univ mana di negara mana ya?”; “kalau recommendation letter itu harus dari dosen atau boleh dari atasan ya?”; “caranya belajar Bahasa inggris gimana ya?” – dst.

Bukan berate pertanyaan-pertanyaan itu tidak valid. Jelas, valid. Tapi kamu tidak membutuhkan kami untuk menjawabnya. Banyak pertanyaan yang bisa dengan sangat jelas kamu temukan jawabannya di website beasiswa terkait, website kampus, artikel-artikel beassiwa, youtube, blog dll. Banyak pertanyaan yang levelnya belum membutuhkan komunikasi yang interaktif. Tolong, jika memang kamu ingin berkuliah dan menuntut ilmu, jangan pikir mencari ilmu baru dimulai Ketika mulai kuliah. Salah. Proses mencari ilmu ini dimulai bahkan sejak masih mencari-cari informasi tentang beasiswa yang sesuai, membaca banyak website universitas yang sekiranya menarik dan mempelajari kurikulumnya satu persatu untuk menentukan mana yang cocok dengan yang kamu cari. Apalagi untuk level S2, yang fokusnya adalah untuk riset, ayo mulai dengan riset tentang beasiswa dan universitas tujuan.

Bukan berarti tidak boleh bertanya. Jelas, sangat boleh. Tapi tolong berikan pertanyaan yang lebih berbobot, sesuatu yang memang tidak mudah untuk dicari di internet, misalnya. Pertanyaan-pertanyaan yang lebih berfokus kepada konten, kepada isi, bukan soal teknis. Bukan lagi bertanya “persyaratannya apa saja ya?” yang padahal ada di website beasiswany dan seringkali berubah dengan dinamis dan bisa saja kami tidak tahu juga jawabannya. Tapi tanya “bagaimana cara Menyusun esai yang bagus? Tipe orang seperti apa yang diterima?”—bahkan, lebih hebat lagi, kalau kamu sudah punya draft esai yang dibuat, dan kami tinggal memberikan feedback. Bukan, bukan juga untuk mengoreksi grammar Bahasa Inggrisnya – untuk perkara yang beda lagi. Kami bukan juga proofreader yang sukarela. Tolong, fokus ke konten.

Jeritan yang kedua: tidak ada yang Namanya ‘one size fits for all’. Baju yang all-size saja biasanya tidak begitu bagus, apalagi mengenai cara mendapatkna beasiswa

Kalau milih baju saja, biasanya harus memilih ukuran yang sesuai agar bisa menampilkan yang terbaik dari diri kita. Begitu juga mengenai proses yang harus ditempuh dalam mendapatkan beasiswa keluar negeri. Sesimpel mengenai cara belajar Bahasa Inggris (saya sering banget ditanya ini hehe), saya bisa bilang saya bisa Bahasa Inggris dari banyak baca novel dan fanfiction dalam Bahasa Inggris. Justru les Bahasa inggris atau belajar di kelas malah sangat tidak efektif bagi saya. Tapi itu saya, saya yang memang suka baca tapi sangat mudah ngantuk dengan cara mengajar yang kaku di kelas. Kalau kamu, beda kan?

Ada yang bisa belajar dengan cara formal di kelas, ada yang dari banyak latian soal, ada yang dengan pergi ke Kampung Inggris, ada yang dari menonton video youtuber – ada banyak cara. Tidak ada cara yang paling superior dari yang lainnya. Yang ada hanyalah cara yang lebih cocok untukmu. Pastikan strategi yang kamu buat sudah customized, yang sudah disesuaikan untukmu yang unik itu.

Begitu pula mengenai cara menulis esai beasiswa serta visi-misi karir yang kita tuliskan. Perjalanan kita semua hingga saat ini jelas sangat berbeda. Tulislah yang memang sesuai denganmu, jangan terlalu terpacu dengan apa yang telah dituliskan Awardee-awardee sebelumnya. Contohnya, hanya karena banyak awardee yang menulis ingin menjadi dosen, kamu ikut-ikutan menulis itu supaya diterima. Loh, masalah mimpi dan jalan hidupmu sendiri, kok cuma ‘nyontek’ biar dapet nilai bagus?

Ini juga yang menyebabkan Sebagian awardee enggan untuk memberikan esai beasiswa miliknya, karena takut kamu akan terlalu terpaku dengan cara dia, padahal itu bukan satu-satunya cara. Jangan tersinggung jika pernah meminta contoh esai beasiswa dan ditolak. Ada juga beberapa yang santai untuk membagikan esai yang dia tulis, walaupun tetap dengan sedikit kekhawatiran bahwa yang membaca akan jadi berpikir ‘oh jadi harus kaya gini’ dan entah kenapa diplagiat dengan alesan ‘ya kan kamu dulu berhasil lolos dengan esai kaya gini, aku mau ngikut sama juga ah’. Percayalah, itu justru resep dari kegagalan. Karena biasanya pemberi beasiswa bisa mengidentifikasi mana yang original dan mana yang palsu. Banyak tips yang bilang ‘jadilah diri sendiri’ itu bukan cuma bullshit, itu sungguhan. Fokuslah kepada konten, kepada intisasi dari yang disampaikan, misal lihatlah bagaimana dia dapat menyajikan visi misi dia agar logis, alur berpikirnya, dll.

Kalau disimpulkan dari jeritan hati ini: katanya kamu mau kuliah kan, katanya cita-citanya semulia itu ingin mencari ilmu hingga menyebrangi batas-batas negara ini, tapi masa malas membaca dan pingin instan dengan cara nyontek/plagiat? Yuk, eksplorasi diri sendiri – dan benar-benar resapi bahwa nasehat ‘jadilah versi terbaik dari diri sendiri’ itu bukan cuma sepik semata.

Tinggalkan komentar