DILEMA SEORANG DOKTER MENGHADAPI KEPENTINGAN PASIEN

Author : Dokter Mager

Seorang manusia selama hidupnya akan mengalami berbagai macam perubahan, seperti merasakan senang dan sedih, melihat isi dompet banyak lalu sedikit, termasuk berubahnya kondisi tubuh dari sehat menjadi sakit. Di zaman modern seperti ini, dokter merupakan salah satu profesi yang banyak dicari oleh masyarakat dikala sakit. Dari yang sekadar berkonsultasi, yang curhat sudah minum obat tapi tak kunjung sehat, hingga yang memaksa ingin dirawat inap. Tunggu…sebentar…pasien yang terakhir kok minta dirawat ya, padahal belum diperiksa oleh dokter?

Ketika ada konflik kepentingan, keilmuan dokter vs keinginan pasien

Sebagai permulaan, saya akan coba menjelaskan bagaimana alur berpikir seorang dokter saat memeriksa pasien. Secara garis besarnya, ada lima tahapan yang perlu dilalui. Pertama, dokter akan menganamnesis pasien. Ini adalah sesi dimana dokter bertanya macam-macam ke pasien, sehingga kesannya kepo banget gitu. Apa aja ditanyain kayak wartawan gosip. Beruntung, setiap dokter sudah disumpah untuk menjaga rahasia pasien apapun risikonya, kecuali seizin pasien atau atas permintaan polisi karena melibatkan kasus hukum. Jadi, pasien gak perlu khawatir saat bercerita. Semua yang dokter tanyakan tentu berhubungan dengan keluhan pasien.

Tahap kedua adalah pemeriksaan fisik. Di sini dokter memastikan bahwa apa yang diceritakan pasien itu benar. Bukannya dokter tidak percaya cerita pasien, tapi dokter juga mengumpulkan data tambahan yang mungkin pasien lupa ceritakan. Misalnya, pasien cerita kalau perutnya sakit. Tapi setelah perutnya dicek, dokter tidak menemukan tanda kesakitan. Kesimpulannya tentu berbeda jika perut pasien benar-benar sakit. Begitu pula dengan bagian tubuh lainnya, bagaimana suara paru-paru dan jantung, warna dan tekstur kulit, apakah ada tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan keluhan pasien, dan sebagainya.

Tahap selanjutnya dilakukan sesuai kebutuhan, yakni pemeriksaan tambahan yang membutuhkan alat khusus seperti cek darah, foto rontgen, dan lain-lain. Setelah mengumpulkan data dari tiga tahap sebelumnya, dokter akan menyimpulkan penyakit pasien. Terakhir, dokter akan menyarankan beberapa hal serta meresepkan obat. Selesai deh. Dokter tersebut bergumam sendiri, lalu menyampaikan rencana terapinya kepada pasien. Sekarang, kita tunggu bagaimana reaksi pasien dan keluarganya.

Hal yang paling disukai dokter adalah saat pasien menerima saran dokter dan mau mengikutinya. “Baik dokter, jadi karena saya sakit darah tinggi, saya akan menjaga makanan saya dan rutin meminum obat yang dokter resepkan. Saya juga akan kontrol tekanan darah saya setiap bulan di puskesmas terdekat. Terima kasih dokter,” ucap pasien sambil tersenyum.

Wow, pasien yang sungguh ideal… Sayangnya, dalam keseharian tidak semulus itu. Setelah dokter bersusah payah mengolah semua data, daya dan upaya, sebagian pasien akan mencoba menawar saran dokter.

“Waduh dok…saya tidak bisa dok kalau tidak makan gorengan… Bagaimana kalau saya minum obat saja? Tapi kalau sudah enakan saya gak minum lagi ya dok.”

Itu…sebenarnya dokter membatin saja… Yasudah, terserah Anda saja deh huhu. Tapi, ada tipe pasien selanjutnya yang akan mematik emosi dokter.

“Dok, ibu saya ini pusing banget gak sembuh-sembuh. Minum obat juga sama saja, jaga makanan juga sama saja. Gimana kalau ibu saya dirawat saja?”

Bentar…gimana maksudnya…pasien darah tinggi minta dirawat?

“Maaf bu, bukannya saya menolak, tapi untuk kondisi ibunya saat ini belum perlu dirawat ya. Cukup menjaga makanan dan minum obatnya secara rutin ya. Sebentar, saya tulis dulu resep obatnya.”

“Dok…dirawat saja dok ibu saya. Biar cepat sembuh dok. Plis dok dirawat saja…”

Ini adalah momen paling krusial bagi dokter, apakah masih bisa bersabar dengan menasihati pelan-pelan atau tidak.

Begitu pun sebaliknya, ketika dokter menyarankan pasien untuk dirawat, alih-alih dipulangkan untuk minum obat saja, kami memiliki alasan dan data yang kuat dalam menyimpulkan hal tersebut. Tantangan berat untuk dokter di klinik dan puskesmas ketika merujuk pasien ke rumah sakit ialah justru penolakan dari pasien sendiri.

“Kenapa dok perlu dirawat? Saya merasa baik-baik aja kok cuma pusing dan sedikit lemas…” Dokter hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tekanan darah 220/100 serta kadar gula darah 400.

“Bu, untuk tekanan darah dan kadar gula darah setinggi ini, ibu perlu dirawat dulu karena ada risiko terjadi stroke, kerusakan ginjal, serta penurunan kesadaran. Saya rujuk ke rumah sakit terdekat ya bu, tolong diinformasikan ke keluarga di rumah…”

“Saya tidak mau dok, saya yakin saya tidak apa-apa. Saya janji saya akan istirahat di rumah dan rutin meminum obat dari dokter.”

Tapi bukan gitu bu…ada kondisi berbahaya yang perlu dihindari eh malah maksa pulang…

Ketika ada konflik kepentingan, siapakah yang berhak memutuskan?

Katanya dokter dituntut untuk menyarankan yang terbaik untuk pasien, tetapi nyantanya tak jarang pasien dan keluarga yang menolak saran dari dokter. Ada berbagai pertimbangan yang diutarakan oleh pasien, mulai dari masalah biaya rawat, ongkos perjalanan dan makan di tempat rujukan, tidak adanya keluarga yang bisa menemani, hingga merasa tidak nyaman di tempat rujukan. Mencari tempat rujukan sebenarnya tidak mudah. Saat dokter menghubungi rumah sakit A, ada kalanya rujukan tidak diterima karena tidak tersedianya kamar, tidak adanya dokter spesialis atau alat pemeriksaan yang dibutuhkan untuk menangani penyakit tersebut. Lalu dokter akan menghubungi rumah sakit B, C, D, dan seterusnya sampai ada yang sanggup menerima.

“Dok, kenapa di Rumah Sakit Y? Jauh banget dok di luar kota… Kalau bisa yang dekat sini dok.”

“Maaf pak sebelumnya, saya barusan sudah telepon ke lima rumah sakit di kota ini namun kebetulan belum ada yang bisa menerima bapak. Alasannya karena bapak membutuhkan ruang isolasi khusus serta kebutuhan pemeriksaan CT scan dada, sehingga untuk saat ini hanya Rumah Sakit Y yang sanggup menerima bapak.”

“Tapi dok kalau di luar kota, selain biaya transportnya mahal, saya tidak ada keluarga yang bisa menemani. Sebentar ya dok saya diskusi dulu sama keluarga.”

Pada akhirnya, dokter hanya bisa memberi saran. Keputusan akhir tetap di tangan pasien dan keluarga. Sebelum menyelesaikan administrasi, dokter akan menyerahkan lembar penolakan tindakan/rujukan kepada pasien. Lembar ini merupakan bukti valid tertulis bahwa pasien dan keluarga secara sadar menolak saran dokter sehingga jika ada sesuatu yang buruk terjadi setelahnya, pasien dan keluarga siap menerima kondisi tersebut tanpa menyalahkan pihak manapun.

Penutup: Dokter selalu menginginkan yang terbaik untuk pasiennya

Besarnya harapan dari pasien serta keluarga untuk menangani keluhan pasien membuat dokter seringkali dicari oleh masyarakat. Siapa pun dia, di mana pun dia bekerja, dokter hanya berharap satu hal, yakni kesembuhan setiap pasien yang datang kepadanya. Seorang dokter akan berpikir keras untuk memberikan penanganan terbaik yang bisa dia lakukan. Dan jika keluhan pasien di luar kemampuannya, dokter akan menyarankan untuk menemui dokter yang lebih ahli ataupun profesi lain yang dianggap mampu menangani. Kami tidak pernah menolak pasien, justru kami mengarahkan pasien agar ditangani oleh orang yang tepat hingga sehat kembali.

Tinggalkan komentar