Ortodoks dan modernisasi

Author : MasPres

Jenak-jenak begini di tengah pandemi corona, ngapain sih penulis mengangkat tema ini? Jadi gini slur, motif penulis mengangkat tema ini ada alasannya kok. Penulis lagi keruntuhan rezeki dapat liburan lima bulan, diserang gabut maka keinginan ia membuka PDF buku pelajarannya di semester tiga. Karena ia tengah kuliah di jenjang martikulasi bahasa arab, so pasti buku pelajarannya sebelas-dua belas kelihatan kayak Al-Qur’an, wong isinya bahasa arab semua, gak ada latin-latin nya. Ia menemukan narasi pada buku pelajarannya yang memaparkan tentang revolusi industri. Saban hari dia selalu membaca literatur bahasa arab yang melulu tentang islam, islam dan islam. Dari mulai hadits, tasir, fiqih, aqidah dan imu-ilmu penunjangnya. Norak betul ia menemukan literatur bahasa arab membahas industi. “INDUSTRI GAES…”. Wajar saja ia norak, wong dua puluh tahun ia nafas di dunia ini, terus-terusan memandang dunia teknologi, industri atau era modernisasi sepenuhnya pada momok barat. Kalo ngomong modern yah wes pasti, kudu, wajib BARAT! Dan penulis yakin, pembaca sepakat dengan itu. Artinya gini loh mas, barat itu tentang modernisasi sedangkan agama yah mengurusi hal-hal yang sudah disinggung. “Ah.. penulis lebay! Buktinya ada kok partai islam, ada bank islam. Artinya muslim sudah modern kok, sudah membahas politik dan ekonomi dari dulu. Wong yang bikin NKRI aja orang islam. Pas lagi pergulatan ideologi pada awal-awal pemerintahan di bentuk pun, tokoh islam gagah mengejawatahkan negara dalam pandangan islam saat gentlement agreement”.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengingatkan, begitu cepatnya ilmu pengetahuan berkembang hingga membuat perubahan drastis pada pranata masyarakat. Contohnya pada bidang industri, masyarakat beramai-ramai bicara revolusi industri 4.0. bahkan curi dengar, di negara-negara maju sana sudah berevolusi satu langkah lebih. Siapa yang mendorong itu? Mengatur itu? Menciptakan itu? Adakah kaitannya dengan islam? Mana yang katanya islam itu kaaffatan li nas? Ditambah pula masyarakat kita ramai-ramai berbicara start up. Yang merupakan aktivitas ekonomi yang berorientasi pada penyelesaian solusi pada masyarakat, bukan berorientasi pada keuntungan pribadi semata. Siapa yang mendorong itu? Mengatur itu? Menciptakan itu? Mana yang katanya islam itu rahmatan lil alamin? Malahan yang speak up tentang start up sebutlah Neil Blumenthal, seorang Co-CEO Of Warby Parker yang menjadi salah satu dari sekian seribu-dua ribu pelaku start up di dunia yang penggalan nama mereka bukan pakai bahas arab, semua BARAT! Dengan begini, dengan ketertinggalan Islam pada peradaban barat. penulis mengajak pada MODERNISASI ISLAM. Modernisasi ini lepaslah dari artian pers barat yang memuji-muji Habib Burquiba, mantan presiden Tunisia yang saat itu dianggap modernis saat berpendapat bahwa buruh di negara Tunisia tak perlu berpuasa agar angka produksi tak menurun. Bukan pula Modernisasi Islam disangkakan dengan pujian pers barat kepada Kemal Attaturk, pemimpin Turki yang mencoret undang-undang dasar “agama islam adalah agama resmi bangsa Turki”.

Tapi Modernisasi Islam, hendaklah yang tadinya kita hanya berbicara pada purifikasi ibadah dan aqidah, lalu kita melesat pada segmen-segmen yang mengatur pranata masyarakat. Sebutlah lah ekonomi, sains, teknologi, hukum, sosial, industri dan lainnya. Bila diserang dengan pertanyaan, bukankah AL-Qur’an sebagai sumber islam sudah watammat kalimaturabbika, sudah paripurna? Ya, seribu persen betul! Tapi masalahnya menurut Dr. HAMKA “berpuluh-puluh kitab tafsir AlQur’an yang ditulis oleh berbagai tafsir masing-masing menurut keahliannya dan pengalamannya, sehingga terdapat beberapa penafsiran yang kalau dipandang pada zaman sekarang, sudah nyata ketinggalan zaman disebabkan oleh berkembangnya ilmu pengetahuan”.

Pun Modernisasi Islam yang disangkakan penulis sebenarnya buah implementasi dari hadits:


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النبي صلى اللهعليه و سلم : إ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مئة سنة من يجدد دينها (رواه أبو داود, و البيهقي, و الحاكم)

“Dari Abi Hurairah ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala membangkitkan untuk umat ini, atas pangkal tiap seratus tahun, orang yang akan memperbarui bagi mereka urusan agama mereka”.

Maka teranglah dari hadits ini, upaya modernisasi yang diinginkan adalah rangka jaddada, yujaddidu, tajdidan yaitu rangka upaya ingin berortodoks. Seperti dalam rangkaian sejarah yang ditulis oleh Brookelman, orientalis barat yang terkenal, disebutlah Abu Bakar bersama tiga khalifah yang lain itu sebagai khalifah ortodoks atau kolot. Maka upaya modernisasi sebenarnya semangat dan intisari kepada ortodoks itu. Usang-usang diperbarui, lupa-lupa diingatkan. Barangkali ada nash Al-Qur’an dan hadits yang kita sudah tahu maksudnya tapi belum diimplementasikan. Dan barangkali pula ada nash yang tidak kita ketahui maknanya, tapi setelah ditelisik dan diimplementasikan, nyatanya kita dapat mewarnai pranata masyarakat.

Sebagaimana saat hingar-bingar kehidupan kerajaan ummayah, Umar bin Abdul Aziz hadir dengan “semangat ortodoks”. Diantaranya ialah mengembalikan khutbah kepada maksud yang sebenarnya dan menghapus cela makian bani umayyah kepada keadilan dan ihsan. Juga ia memperbarui semangat orang beragama agar kembali kepada sunnah nabi.


Dengan begini, barangkali yang bisa kita lakukan dimulai dengan langkah kecil, berubah dari aktivitas mengkaji Aqidah, Fiqih, Hadits, Tafsir sebagai ilmu, kemudian berubah mengkaji sebagai praktik pada pranata. Sembari mempelajari mengapa “ini dan itu” terjadi di pranata masyarakat kita.

Tinggalkan komentar