Ga ada tempat Bagi Calon Sastrawan di SMA

Author : MasPres

Para pembaca pasti pada pernah kan nonton AADC yang tahun 2002 ? Setidaknya tentu tak asing dengan tokoh Rangga yang diperankan Nicholas Saputra kan? Dengan pertanyaan ini bukan niat penulis mereview film. Nggak kok… Nggak. Dua pertanyaan ini, diniatkan penulis menjadi pembuka dari dendamnya pada masa SMA. Ciee Ciee.. Maau curhat ya? Jadi gini mas, dengan film AADC, menurut saya ini betul-betul merepresentasikan kehidupan dunia SMA. Tapi yang ingin diceritakan bukan kehidupan percintaan. Yng membuat saya tertegun, pada masa itu, ada perhatian khusus dari para murid SMA sekaligus pihak sekolah pada literasi atau sastra. Memang barang tentu tak semua murid di masa itu semua murid menyukai literasi dan sastra. Bahkan penulis yakin, hanya satu-dua murid saja yang ada perhatian pada itu. Sisanya murid-murid pada umumnya yang fokuss pada pelajaran eksak bagi anak IPA, dan yang lain fokus pada bidang-bidang IPS. Dan dengan begitu sama-sama saja dengan siswa SMA pada hai ini. Artinya tak banyak yang berbeda pula. Tetapi ada yang membuat saya tertegun, yaitu pada perhatian kepada literasi dan sastra. Dari pihak sekolah menyediakan panggung bagi siapa saja yang mampu menciptakan puisi, tapi terasa ada aura perebutan di lomba.

Saat masih di bangku SMA, saya merasakan pihak sekolah amat jumawa saat muridmuridnya menang juara ini-itu pada bidang keilmuan. Entah tinkat negeri yaitu OSN, baik tingkat madrasah pada KSM. Tapi tak ada upaya yang bulat pada pihak sekolah memberikan “panggung” bagi muridnya dalam bidang literasi dan satra. Mungkin pembaca akan menuding saya : Halah.. penulis saja yang lebay! Bilang saja anda bodoh pada pelajaran, lalu mencari pembenaran pada diri anda dengan menyalahkan pihak sekolah yang tak memberi effort pada hobi anda pada literasi dan sastra! Penulis lebay, buktinya pihak sekolah memberikan sarana itu, sebut aktivitas mading, majalah, bahkan ada lonba-lomba pula seperti puisi antar sekolah. YA.. BETUL SEKALI..

Tapi saya tak melihat aura upaya yang bulat pada pihak sekoah pada literasi dan sastra.Padahal dengan yang dua ini, eksistensi Indonesia di mata dunia akan terus menyala beribu-ribu tahun di masa depan. Yang dua ini, menjadi pembeda kita pada dunia. Tiap negara di dunia ini terus mengembangkan keilmuan pada sains, teknologi, sosial, hukum, dan lain-lain. Dengan begini tiap negara dapat mengangkat taraf kehidupan masyarakatnya. Tapi apakah anda hanya bekerja untuk hari ini? Tidakkah anda bekerja untuk masa depan? Betul adanya keilmuan-keilmuan yan sudah disinggung dipersembahkan pula untuk masa depan. Tapi sebagai manusia yang diciptakan tuhan menjadi makhluk sosial, makhlu yang berinteraksi dengan kasih sayang. Akan mundur peradabannya bila hambar interaksi pada masyarakat.

Bagimana interaksi bisa hambar? Untuk menjawab pertanyaan ini,perlu di jelaskan pulabahwa bahasa sebagai media interaksi, perlu dikembangkan aga tidak usang. Usang-usang diperbarui, lupa-lupa diingatkan. Maka pihak sekolah, sebagai lembaga formal yag diamanahi membangun penerus bangsa, harus memiii upaya bulat dalam meningkatkan pikat literasi dan sasra bagi para siswa. Dengan yang dua itu, bisa melesat terus eksistensi bangsa dihadapan peradaban. Hendaknya dari usaha yang paling kecil, dengan berjumawa bila muridnya memiliki perhatian pada literai dan sastra.

Tinggalkan komentar