
Author : Ekonom Galau
Ada metaphor terkenal: “every cloud has a silver lining” –bahwa di tengah kondisi seburuk apapun, selalu ada aspek positifnya. Di tengah wabah COVID-19 ini, ada silver lining yang cukup jelas: alam yang ternyata semakin dicintai.
Cukup menarik, walaupun dunia sudah berkoar-koar tentang globalisme dan digital transformation, banyak old mindset yang dulunya masih ketakutan untuk merubah mindset cara kita bekerja. Ternyata, dengan datangnya corona, perusahaan terpaksa untuk shifting menggunakan video conference. Ternyata, banyak pertemuan yang bisa disederhanakan dan jauh menghemat biaya.
Jadi selama ini, semua pekerjaan itu bisa dilakukan dengan remote – tapi lucunya sistem konvensional memberi titah para pekerja untuk bersabar melewati proses commuting yang lama, harus jauh dari keluarga, harus meningkatkan emisi polusi, harus meramaikan jalan yang sudah padat. Lalu akhirnya, muncul stress dan mencari hiburan yang tidak sederhana juga, yang harus dipuaskan dengan mall, bioskop, karaoke dan berbagai layanan lainnya.
Ketika medadak kita diminta pause, dari situ kita mempelajari kesederhanaan. Ternyata, semua hal ini bisa-bisa saja kita singkirkan.
Ternyata, kita bisa lebih mencintai alam dengan kesederhanaan yang kita berikan.

(Sumber: http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/15023/BAB%20II.pdf?sequence=6&isAllowed=y
Dalam teori ekonomi, “Environmental Kuznet Curve” menggambarkan hubungan antara pendapatan per kapita dengan tingkat polusi. Teorinya, seiring pertumbuhan ekonomi, akan semakin tinggi tingkat polusi yang diciptakan. Produksi massal berarti banyak pabrik-pabrik diciptakan. Aktivitas ekonomi membuat kebutuhan transportasi dan logistik meningkat, menghiasi langit dengan jejak abunya. Makin banyak jasa rekreasi yang dibuat, dan berbagai industri-industri lainnya. Ekonomi tumbuh, dengan kesehatan alam sebagai biaya yang harus dibayar.
Tapi itu baru sebagian dari teori tersebut. Dengan positif, Environmental Kuznet Curve membisikkan harapan: bahwa setelah titik tertentu, tingkat pendapatan justru akan membuat penurunan tingkat polusi. Salah satu alasannya, adalah karena apabila tingkat pendapatan sudah tinggi (seperti di negara maju), maka akan muncul banyak inovasi teknologi yang lebih hemat polusi, lebih tidak merusak alam. Nantinya, semakin kaya suatu negara, justru semakin kecil polusi yang dibuat.
Harapannya demikian –
Tapi realita sering tidak seindah harapan.
Masih banyak perdebatan akan teori ini, tapi salah satu kelompok yang “kontra” justru melihat bahwa: oke, teknologi kita semakin hemat polusi, tapi juga konsumsi kita semakin tinggi. Walaupun polusi per unit barang yang kita konsumsi memang lebih kecil daripada sebelumnya, tapi konsumsi kita semakin tinggi. Produksi akan barang-barang tersebut juga malah meningkat daripada sebelumnya. Hasilnya, tetap saja polusi naik.
Dari situ, yang kemudian dipropose kemudian adalah: kesederhanaan, atau frugality. Ini bukan masalah teknologi atau inovasi, tapi tentang gaya hidup. Bagaimana manusia kembali menjadi minimalis akhirnya, menghindari konsumsi berlebih, pergi dari mindset industri yang selalu harus produksi berlebih, bahkan degrowth atau melambankan ekonomi kita. Inisiator ide frugality ini tentu masih sulit untuk populer, sampai akhirnya mendadak kita dipaksa untuk menjalankannya – dengan katalis dari alam itu sendiri, dalam bentuk virus yang mendadak mempersatukan dunia. Yang mendadak membuat kita hemat energi, polusi turun dengan sekian drastisnya, yang memberi rem untuk sekian siksaan alam.
Sedikit saja, mungkin ini cara alam mengingkatkan kita untuk mencintainya dengan sederhana.
Aku bukan Sapardi Djoko Damono. Tapi mungkin saatnya aku yang bertutur cinta kepada alam ini:
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata-kata yang ternyata cukup diucapkan melalui layar saja; merendam rindu atas perjalanan yang tidak perlu”
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan sedikit saja melambankan aktivitasku, yang selalu saja tak sempat memberimu ruang beristirahat.”
Referensi :
Schachtschneider, U. (2012). Ecological Basic Income: An Entrance is Possible. In 14th BIEN Congress, Munich.
Schneider, F., Kallis, G., & Martinez-Alier, J. (2010). Crisis or opportunity? Economic degrowth for social equity and ecological sustainability. Introduction to this special issue. Journal of cleaner production, 18(6), 511-518.
