Gak ada judul

Author : Bubur Kayu

Tulisan ini gak penting- Ditengah heningnya malam tanpa suara jangkrik dan deru mesin kendaraan proyek. Sunyi sendiri sembari menghisap sebatang gele rokok. Anjay. Saya berasumsi kalau disetiap kepala kita saat ini adalah berjalan di pusat pertokoan melihat barang-barang, kuliner segala jenis makanan atau kumpul bareng kawan, sekedar melepas penat dari lelahnya pekerjaan dan tugas kuliah. Hari-hari kita kini penuh dengan hasutan hingga kita tak tahu diri sendiri atau malah sebaliknya, makin mengenal diri kita sebagai makhluk sosial yang sejatinya individual.

Sebagai individual, saya tidak akan peduli kejadian sehari-sehari disekitar lingkungan saya, karna saya hanya mementingkan diri sendiri, karena memang sejatinya kita semua begitu, berbondong-bondong orang datang ke pasar untuk menyetok barang pangan jangka Panjang, menimbun masker lalu menjual kembali dengan harga yang mahal. Keegoisan manusia datang ketika dirinya merasa tertekan, terancam demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Manusia bisa saja bersembunyi dibalik topeng sosial layak nya aktor yang bersandiwara dipanggung teater. Entah, ini dampak tinggal di kota metropolitan dengan segala kemajuannya atau memang sifat dasar manusia itu yang individual. Kota yang saya tinggali sudah tidak ramah lagi, orang-orang yang lewat sudah tak pernah melempar senyum lagi. Hari ke hari semakin muak dengan sumpeknya kendaraan yang tidak pernah sabar, ketika lampu merah baru saja hijau bunyi klakson saling bersahutan di tambah polusi kendaraan bermotor, antrian juga kadang masih ada yang menyerobot tidak sabar, lengkap sudah kehidupan dikota.

Tapi, sebagai mahkluk individual ternyata kita juga mahkluk sosial yang membutuhkan kehangatan dari orang lain. Ini terbukti, di masa quarantine ini kita merasa sangat kesepian butuh teman, ya walau kalau sudah ketemu teman ujung-ujungnya sibuk sendiri dengan gawainya, biasa terjadi di kota-kota besar. Ya, kita butuh teman untuk berbicara, sehari saja tidak berbicara dengan orang lain pikiran stress merasa nolep. Atau ada jenis orang yang ketika kumpul sangat periang berbicara dengan nada bahagia, periang banget lah pokonya, tapi ketika selesai kumpul pulang kerumah seketika berubah menjadi seorang yang sangat individualis berbicara sendiri atau berbicara dengan tembok.

Karena malam yang semakin larut dan saya gak tau ini tulisan tentang apa, sementara belaian angin malam semakin memanjakan, seruputan terahir menutup hening malam yang masih tersisa enam jam, saya tatap bulan yang letih, meski putih, tetap menyiarkan keelokannya. Bulan yang selamanya bisu seperti menahan suara yang cakrawala batasnya tiba-tiba pecah menjelma gerimis. Dan hening, hening adalah ketika saya tak lagi mampu mengeja apapun yang baru saja saya tulis.

Tinggalkan komentar