
Author : Afiq Naufal
Tentu akan terlihat keren, memulai tulisan dengan petatah-petitih cendekiawan terdahulu. Terlebih pada tokoh filsafat yang barangtentu memberi power pada tulisan kita: itu adalah alat kreativitas. Belum kreativitas. Dan saya belum merasa tulisan ini berjalan karena saya belum membentuk ‘simbol’ kreativitas. Belum pula saya mulai memberi tahu pembaca apa itu kreativitas secara tersurat. Tapi saya sudah membahasnya di awal. Percayalah. Oke saya mulai. Tulisan yang baik diawali dengan pembatasan masalah, biasanya definisi, namun tulisan ini membahas kreativitas. Saya sangat tak ingin sekalian para pembaca, membatasi dirinya dalam kreativitas, sekalipun itu mendefinisikannya. Namun, karena saya sadar tulisan adalah alat komunikasi, media pengantar, alat adalah batas, maka mau tidak mau saya harus menjerumuskan anda pada taraf itu, meski saya harus mengatakan jangan percaya batasan pengertian ini. Berdasarkan kamus-kamus yang ada(bukan hanya KBBI) secara garis besar, kreativitas adalah daya cipta;membuat sesuatu yang baru;berkreasi. Nah, itu bukan kreativitas
Hari ini saya menggunakan tablet untuk menulis. Dan saya sadar tulisan adalah batasan. Sedangkan isi tulisannya tak terbatas. Begitu pula ketika saya memasak indomie tadi sore. Setelah menjadi makanan dia adalah batasan. Isi makanannya yang tak terbatas. Jadi alat, media, tempat—adalah abstraksi tak terbatas. Setelah itu, meski ini berhubungan sebagai fungsi namun diawal saya belum memulai begitu;setelah itu yang terbatas. Kreativitas muncul tidak semata-mata ‘ada’ secara ajaib turun dari langit seperti ilham, namun hadir dari sesuatu yang telah ada—nanti boleh kita sebut alat—mentransformasi menjadi hal baru yang ‘ada’. Misal, besi yang menjadi pesawat, mobil, perkakas. Kayu jadi meja, pintu, kursi. Plastik jadi botol, piring, bungkus makanan. Kaca jadi gelas, jendela—dan sebagainya. Saya perlahan akan memberi gambaran bahwa meski setelahnya dia menjadi batasan, dia tersusun atas sesuatu yang tak terbatas. Pertama, saya mau mengatakan satu-satunya yang tak terbatas adalah kreativitas. Kedua, segala hal adalah terbatas. Ketika sesuatu memiliki fungsi maka dia akan menjadi terbatas. Sebelum menjadi fungsi dia tak terbatas. Sekali lagi yang tak terbatas menyusun yang terbatas
Tulisan ini semakin memencarkan makna karena saya sedang mejadikan makna sebagai ruang tak terbatas. Maka saya sedang tak menjadikan tulisan ini fungsi. Karena sampai titik kesekian ini tulisan ini belum mencapai soal kreativitas. Saya sedang asyik menjejali hal yang tak berfungsi. Karena kalau tulisan ini telah mencapai fungsinya, kreativitas telah hilang. Maka saya sedang mengaktifkan kreativitas itu. Pada hakikatnya kreativitas adalah menemukan yang baru—dan setelah itu tak baru lagi. Jadi, ada dua faktor yang menentukan apakah sesuatu itu pernah diselesaikan dengan kreativitas atau tidak yaitu, orisinalitas kebaruannya dan nilai. Akhirnya sampai disini sebagai ‘definisi kreativitas’ saya sudah tidak bisa memastikan tulisan saya apakah sudah sampai kepada kreativitas atau belum;sudah baru atau belum, sudah berfungsi atau belum. Yang jelas, saya ingin mengatakan pengertian tentang kreativitas lebih dari itu.
Sebelum saya berlanjut kepada bagaimana menciptakan kesadaran terhadap kreativitas, saya mau memaparkan beberapa teori dengan buru-buru—secara sengaja—dengan itu saya harap pembaca membacanya pelan. Pertama, kedua, hingga ketiga tidak akan saya tuntun, saya menulis ini tidak sistematis agar timbul kesadaran secara penuh. Hegel memiliki teori atau filosofi memiliki yang dia namakan filsafat properti. Menurutnya, properti dibedakan menjadi dua yaitu, properti privat dan publik atau tidak jauh beda maknanya dengan properti fungsional dan non fungsional(mati). Kemudian, Erich Fromm membuat teori psikologi memiliki yang menyatakan, seseorang yang mampu mencapai kesadaran tak takut kehilangan sebab paham properti fungsional mudah diganti adalah seorang yang mencapai idealnya sikap memiliki. Nietzsche mengatakan, sesuatu yang memiliki sejarah adalah sesuatu yang tak terbatas. Aan Mansyur mengatakan keterbatasan adalah ruang bagi kreativitas. Selama kita masih banyak memiliki properti mati(non fungsional), menumpuk harta, berlebih, tak terbatas(dalam arti kecukupan), takut kehilangan—akan sulit menjadi kreatif. Dan yang terpenting harus dicatat, anda juga menumpuk diri anda sendiri menjadi rongsokan yang sedang dilupakan sejarah.
Semakin jauh saya menulis tulisan ini, semakin yakin pula saya akan keberadaan kreativitas dalam tulisan saya ini. Sebab, umumnya kreativitas tercipta dari kejanggalan, dari keterbatasan. Ada nilai yang sudah tak relevan dan mesti diperbaharui semisal. Terciptanya kapal agar bisa menyeberangi samudera. Terciptanya pesawat agar bisa lebih cepat. Terciptanya gagasan demi gagasan agar lahir kesempurnaan konsepsi. Peradaban bertambah maju karena seseorang punya kesadaran kreativitas. Dan kreativitas lahir dari keterbatasan—sedang dunia tercipta terbatas dan tidak sempurna(penuh kejanggalan). Maka saya bisa megatakan esensi kehidupan adalah kreativitas.
Sebagai penutup saya mau mengatakan, harus saya akui tentu akan banyak yang kesulitan menangkap secara meyeluruh apa yang ingin saya katakan tentang kesadaran kreativitas. Karena benar saya tidak ada sama sekali keinginan, tulisan ini bisa mencapai taraf fungsinya untuk memaparkan apa itu kesadaran kreativitas. Saya merasa tulisan saya ini menggunakan kata kerja secara menyeluruh.
