
Author : Amri
Orang idealis dan orang realistis,mana yg lebih sukses?
Saya harus merasa perlu menyampaikan hal ini agar orang (pembaca) tidak salah menafsirkan judul tulisan saya di atas. Bahwa, judul tulisan bukan lah sebuah pernyataan apalagi kesimpulan, tetapi sebuah pertanyaan. Ini karena saya masih berfikir mungkin ada sebagian orang tidak sedang mendefinisikan kata sukses hanya berdasarkan seberapa karat hebatnya karir dan mungkin orang yang “tidak sukses” sebenarnya tidak lah seburuk seperti apa yang mungkin dipandang oleh sejumlah orang saat ini.
Saya juga masih harus menambahkan satu hal lagi; bahwa orang-orang yang saya sebut “sukses” adalah orang-orang yang hebat sesuai dengan format yang saya buat sendiri. Saya juga hanya mengambil contoh dari hasil ‘riset’ kecil yang saya lakukan terhadap orang-orang di sekitar saya.
Orang-orang idealis, seperti saya kutip dari Wiki, adalah orang-orang yang memiliki idealisme. Idealisme sendiri adalah keyakinan atas hal atau suatu yang dianggap benar oleh yang bersangkutan. Kebenaran itu bisa berasal atau bersumber dari pengalamannya, pendidikannya, budaya atau kebiasaannya. Idealisme dapat termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide, pendapat atau cara berpikir. Jika mereka berpendapat A adalah benar, maka apapun dalil yang kita sodorkan, baginya, A tetap lah A yang paling benar.
Idealisme tidak hanya memengaruhi sikap, ide, pendapat ataupun cara berpikir seseorang. Pada skala yang sangat luas, idealisme bisa berwujud keyakinan terhadap ideologi negara, cara berfikir tentang komunisme, liberalime, sistem ekonomi negara dan masih banyak lagi.
Handoko (tentu saja bukan nama sebenarnya) adalah contoh teman saya yang idealis. Ia sangat setia terhadap hal-hal yang ia yakini sangat benar. Dulu, Ia aktivis kampus dan sangat pemberani, bahkan saking idealisnya segala sesuatu yang dirasanya kurang pas, salah, tidak berjalan semestinya dan sudah keluar dari relnya, maka ia akan kritik habis-habisan, termasuk juga demo terhadap Pemerintah.
Maka tak heran, ia sosok mahasiswa sangat popular, pada jaman dulu. Ia sangat disegani kawan-kawannya, sehingga mereka pernah memilihnya sebagai Ketua Senat Mahasiswa. Saya memang akui, Handoko adalah sosok pemberani, pantang menyerah, dan senang membela kaum tertindas.
Namun, saya sungguh tak menyangka, setelah enam tahun semarak wisuda itu usai, teman saya itu lebih banyak termenung memikirkan keadaan dirinya. Pernah beberapa bulan ia bekerja, tetapi akhirnya keluar. Saya sempat menduga-duga dalam hati ketika ia mengisahkan nasibnya, mungkin managernya yang orang asing tidak menyukai sikap dan kesukaannya yang menentang. Mungkin managernya tidak suka perintahnya dibantah.
Setelah itu, saya tidak tahu lagi, sudah berapa puluh kali ia keluar masuk pintu gedung-gedung megah di Jakarta sambil membawa surat lamaran. Tetapi kiranya nasib baik belum juga hinggap. Hingga, akhirnya ia harus rela menerima tawaran menjadi sales bahan bangunan dengan penghasilan yang tak seberapa. Tapi apa boleh buat?
“Ya… inilah hidup,” begitulah Handoko selalu mencoba menghibur dirinya. Aku kadang merasa kasihan.
Kisah hidup Handoko diatas, ternyata sangat berbeda dengan Rizal (juga bukan nama sebenarnya), kawan saya yang lain lagi. Rizal yang kini menjalani profesi sebagai seorang manager perusahaan Multi Nasional di bidang dunia rekayasa dan konsultan, memiliki sikap berkebalikan dengan Handoko. Saya tak tahu berapa persis gajinya. Namun, dua buah mobil seharga lebih dari empat ratus juta dan rumah bagus sudah cukup membuat saya paham berapa pendapatan yang ia peroleh setiap bulannya.
Nah disini timbul percakapan bagi para pembacanya termasuk gue ama temen gue wkwk karena temen gue sempet baca juga.jujur gue pribadi jg blm ngerti apa itu idealis dan apa itu realistis,maklum namanya masih tolol hehe.
Basri : eh jon kemaren udh baca belm artikel yg gue kirim ke elu
Jono: yg mane siii!
Basri: ett kemaren malem gue kirim ke elu juga
Jono: oh iya iya yg membahahas idealis ama realistis itu kan
Basri : tjakeppp! Iye bener jon. Nah jadi gini menurut lu gimana tuh mengenai artikel itu?
Jono : menurut gue sih MANTUL realistis ye ri,karena itu jelas bngt yg gue baca antara idealis dan realistis sih
Basri : jelas gimane emng?
Jono : iye menurut gue realistis lebih aman karena nih gue bacain kutipanya: ternyata sangat berbeda dengan Rizal (juga bukan nama sebenarnya), kawan saya yang lain lagi. Rizal yang kini menjalani profesi sebagai seorang manager perusahaan Multi Nasional di bidang dunia rekayasa dan konsultan, memiliki sikap berkebalikan dengan Handoko. Saya tak tahu berapa persis gajinya. Namun, dua buah mobil seharga lebih dari empat ratus juta dan rumah bagus sudah cukup membuat saya paham berapa pendapatan yang ia peroleh setiap bulannya. Nah pas kata kata ini nih gue terkesan ama pesanya hehe
Basri : nah iyee mantul juga lu bacanya
Jono : klo menurut lu ri gmn?
Basri : klo gue sih ga dua duanya karena gue mau menjadi manusia aja manusia yg bener bener manusia wkwk,karena gue pikir kebanyakan orang blm jadi manusia yg sesungguhnya karena didalam hidupnya masih mencantumkan jiwa individu yg sama dengan keegoisan semata yg mana dia tidak memikirkan hak orang lain,yg harusnya orang lain mendapatkan hak yg semestinya. Karena hak orang itu adalah segalanya bagi si “manusia”,gue ambil contoh kecilnya siapa dia orang yg mengandalkan egoisnya nih ya seperti korupsi,kolusi,dan nepotisme bisa di singkat KKN gue ambil contoh ini aja,karena menurut gue itu bagian kecil dari orang yg mengandlkan keegoisan semata sehingga lupa dengan hak orang lain. Nih ya klo lu tau akibat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) adalah merugikan negara dan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945,Nah di Negara ini ada elu jg Jon ya jadi lu termasuk yg dirugukan wkwk. Anjir ampe berbusa mulut gue ngedongeng wkwk.
Jono : ett santuy tapi mantul,gue suka nih yg gini” karena nongkrong selain menambah manfaat jg menambah ilmu dan wawasan.
Basri : jadi parah bngt kan pelaku KKN
Jono : anjir parah bngt aseli
Basri : makanya kita BERJUANG bersama jon dengan cara membangkitkan semangat kita demi membangun NEGRI kita ini.
Jono : siap riii. Eh jadi lu pengen gmn untuk saat ini ri
Basri : lu nanya gue, saat ini gue pengen menjadi “MANUSIA YANG MERDEKA” dulu aja HAHAHA
Jono : ett iyaa juga yaa wkwkwkk
Basri :sampai disini dulu aje ye ngopinya jon karena hari sudah berlarut sore dan senja pun sudah mulai nampak dihadapan kita. Anjayyyy
Jono : oke rii yengkyu bro
Basri : samasama jon
