Millenials jiwa ORBA

Author : Hotsanparis

Muda, biasa diartikan seseorang dimana fase fase tersebut idealisme nya masih tinggi, fisik kuat, kaya akan ide ide kreatif dan semangat yang berkobar-kobar. Maka tak mengherankan jika anak anak muda selalu menjadi bagian atau ambil peran dari setiap periodesasi sejarah besar yang terjadi pada bangsa ini.

Sebelum kemerdekaan kita mengenal adanya sumpah pemuda yang kemudian selang beberapa lama menghantarkan indonesia kepada gerbang kemerdekaan berkat usaha golongan muda dengan peristiwa rengasdengklok. Kemudian ada perstiwa 65/66 sebagai kesatuan pergerakan mahasiswa secara nasional dalam mengkritik sekaligus menjatuhkan orde lama. Puncaknya ketika peristiwa 98 berhasil menjatuhkan rezim orde baru dengan bertaruh nyawa dengan membawa 6 tuntutan reformasi, salah satunya memberantas KKN (kolusi, korupsi dan Nepotisme)

Maka daripada itu sudah seharusnya pemuda, layak untuk ikut ambil peran bersama membangun bangsa ini. Walau terkadang muda, selalu diidentikan oleh beberapa orang dengan ketidaksiapan, minim penalaman, serta stereotip negatif lainnya. Namun penulis sendiri pun percaya dan memperjuangkan prinsip egaliter dengan melihat sesorang melalui kapasitas nya, bukan karena ia tua atau muda, laki-laki maupun perempuan dll.

Tentu akan menjadi sia sia perjuangan tersebut jika saat ini kita memiliki figur orang orang muda terbaik pada generasinya yang mereka sukses dalam bidang nya masing masing hingga sampai pada pencapaian memegang amanah lebih besar ketika dipercaya menjadi pejabat publik. Alih alih menjadi suatu prestasi dan motivasi yang besar bagi anak anak muda seantero negri tetapi yang terjadi justru merusak citra anak muda itu sendiri.

Akan terlihat bodoh apabila kita kembali ke lubang yang sama. Dahulu pada zaman reformasi pemuda berjuang melawan kesewenangan orde baru dan, mereka berhasil. Akan tetapi memang tidak akan hilang sepenuhnya. Bibit bibit perilaku tersebut akan tetap ada. Namun akan menjadi suatu hal mencengangkan apabila hal tersebut dilakukan oleh anak muda.

Memang sejatinya sangat diperlukan kolaborasi antara pemerintah, swasta dan masyarakat agar tercipatanya good governance sebagai langkah konkrit pembangunan yang berkelanjutan. untuk mewujudkan hal terseut sepertinya perlu diadakan pengawasan yang lebih ketat agar mendapat hasil yang terbaik dan merata. Seperti fenomena yang sedang terjadi ketika pejabat publik masih memegang jabatan sebagai pimpinan di suatu perusahaan.

Hal itu dapat memicu konflik kepentingan. Yang mana tupoksi pejabat publik melayani kepentingan masyarakat umum tetapi yang terjadi dapat berpotensi melayani kepentingan perusahaan yang ia pimpin. Kalo begitu apa beda nya dengan zaman suharto? terlebih kalau perbuatan itu dilakukan oleh seorang yang mempunyai image milenial atau anak muda selain dapat menjatuhkan Marwah insitusi pemerintahan tsb juga akan melunturkan perjuangan para anak muda lainnya yang menuntut peran dan hak mereka untuk andil kontribusi menjadi pelayan masyarakat.

Sudah sepatut nya jika seorang sedang menduduki jabatan publik harus mundur dari jabatan-jabatan penting lainnya seperti pimpinan perusahaan maupun ketua umum partai mungkin, eh? Hehehehe dan kalau perlu jika sudah terbukti melanggar bisa segera mengundurkan diri atau di copot dari jabatan publik itu. agar tidak terjadi penguasaan kesejahteraan oleh satu pihak maupun satu golongan saja. Karena sejatinya keadilan sosial itu milik seluruh rakyat indonesia.

Tinggalkan komentar