
Author : Afiq Naufal
Beberapa waktu lalu saya menulis tentang konsep dari lahirnya Kesadaran Kreativitas. Anda boleh membacanya, boleh juga tidak, untuk memulai membaca tulisan saya kali ini. Tulisan ini bermaksud melakukan pembenaran, bukan kebenaran, terhadap tulisan saya beberapa waktu lalu—meski saya tetap mengatakan dengan tidak membaca tulisan saya beberapa waktu lalu, tulisan saya kali ini mampu berdiri sendiri. Seperti yang saya katakan tadi, tulisan ini bersifat pembenaran atau boleh saya katakan dengan gamblang—bersifat subjektif. Sebagai gambaran sedikit, dalam tulisan saya beberapa waktu lalu, saya mengatakan bahwa Kreativitas berangkat dari pemahaman utuh tentang semangat pembaharuan sebagai ‘kesadaran’ bukan ‘asal baru’. Seperti orang yang tidak bisa berenang tapi ia harus menyeberangi sungai, akhirnya dia merakit perahu dengan kreativitasnya. Atau seperti seorang desainer yang merasa karyanya sudah kuno, sehingga ia mendesain karya yang lebih baru. Jadi, bukan tiba-tiba ‘mengadakan’ kebaruan agar bisa terlihat kreatif, terus menciptakan sesuatu yang tak jelas ukuran, fungsi dan batasannya. Slogan mereka kurang lebih ‘yang penting beda’ “yang penting baru.” Keduanya memiliki pola yang tentu berbeda dan atas dasar pijakan filsafat yang berbeda. Tulisan saya kemarin menggunakan beberapa konsep filsafat memiliki dan psikologi memiliki. Tapi harus kembali saya katakan, tulisan saya kemarin, bukan tulisan yang ‘menjemput’ tapi ‘mengantar’. Kreatif sekali lagi, memerlukan ketelibatan diri kita, terlebih pada kesadarannya. Dan boleh kita katakan, bila kita tahu “mengapa kita mengerjakan sesuatu?” pekerjaan kita menjadi lebih nikmat. Seperti seorang yang melakukan ibadah tertentu, lalu mendapatkan dampak baik bagi kesehatannya.
Sekali lagi tulisan ini berisi pembenaran. Dalam artian saya menemukan jawaban baru terhadap konsep saya tentang kesadaran kreativitas beberapa waktu yang lalu. Kemarin saya mengatakan, batasan dari berakhirnya Kreativitas adalah bila mediumnya telah berfungsi. Seperti kain telah jadi pakaian. Besi sudah jadi kendaraan. Dan lainnya. Kalau kita sudah bisa menjalankan fungsi dari medium atau alat yang kita pakai sebelumnya sebagai bagian dari eksperesi kreativitas, maka kreativitaspun ikut terhenti. Jadi, fungsi adalah batasannya. Lalu apabila kita melepas fungsinya kembali, karena kita menganggap itu terbatas, saat itu pula kesadaran kreativitas sedang berlangsung. Dan—oleh karena dunia adalah ruang penuh keterbatasan, maka esensi kehidupan adalah Kreativitas. Kira-kita itu gambaran singkat tentang tulisan saya kemarin.
Sebenarnya diakhir tulisan ini saya akan menambahkan cara pandang saya dengan pendekatan dialektika dan logika terhadap konsep filsafat saya terhadap kreativitas, tapi lagi-lagi saya tidak ingin pembaca tersiksa oleh olah pikir yang semrawut, tanpa disertai olah rasa. Kebetulan jawaban yang baru saja saya temukan hari ini membutuhkan olah rasa yang maksimal;Kesadaran Puitik. Saya katakan sekali lagi saya tidak membahasnya dalam satu tulisan ini. Mungkin menjadi tulisan setelah ini. Saya juga tidak menyarankan pembaca untuk menunggu tulisan itu sebab tulisan itu akan berisi narsisme saya, seperti ketika saya ditanyai pendapat oleh orang lain. Isinya kurang lebih bukan bermaksud menambah perspektif bagi pembaca. Sebelumnya saya ingin kita lebih mengedepankan dalam tanda petik “perenggangan” dalam menghadapi kreativitas. Jadi mari kita bermain menjadi penyair terlebih dahulu.
KESADARAN PUITIK
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kiriman puisi dari remaja SMA. Tidak hanya sekedar dikirimkan, dia menjelaskan isi puisinya dan mengapa ia menulis puisi itu.
Berikut saya tampilkan:
Pesan Peri Daun
hari ini jalan jalan bersama anak angkuh
susah sekali baca petanya
penuh kabut asam diri sendiri
kita semua ini sedang belajar bukan
bersama para peri kayangan dan
bidadari sungai negeri di atas awan
setelah tamat dan jadi pendekar
disuruhnya lagi kembali ke tanah
bukannya tak pantas punya sayap
katanya biar tak masuk kawanan temanmu
yang angkuh dan kokoh dindingnya
jadi jangan coba coba injak kawasannya
bisa bisa berdarah berjalan di sana
selain itu yang saya ingat hanya ajaran baiknya
karena yang buruk sepakat hilang tujuan
satu lagi yang indah diingat
kata si peri daun
‘semua jiwa itu baik janinnya
lingkungan yang bantu ia pilih warna’
terimalah semua jiwa sakit
jangan lihat kuas di tangannya
ingat kembali budi baiknya saat janin
agar kamu, para peri, dan bidadari
dapat tetap mengukir pelangi untuk si bapak bumi
Dalam pengakuannya ia menulis puisi ini karena ia sedang marah dan tidak senang untuk dekat-dekat dengan sebagian temannya. Sebab bagi dia, temannya belakangan hanya mementingkan material dan menyelesaikannya dengan uang. Segampang itu. Puisinya berisi kegelisahan dia secara jujur, tapi di lain sisi dia menyembunyikan maknanya dengan berbagai metafor yang dia pakai. Puisi tersebut tampak ingin menunjukkan suasana batin si penulis dengan perumpamaan “negeri dongeng” dalam satu kiblat pengertian. Si penulis kemudian terlihat memiliki kebebasan dalam mengartikulasikan isi pikiran dan perasaannya dengan unik tanpa perku takut dibenci oleh kawannya. Kepiawaiannya dalam menukik makna, membuat dia mampu membangun tempat persembunyian yang baik dari makna harfiahnya. Seperti kata, “penuh kabut asam diri sendiri” untuk menyembunyikan makna “tidak bisa tulus sehingga dibayang-bayangi kesombongan” atau “setelah tamat dan jadi pendekar /disuruhnya lagi kembali ke tanah” bermakna tentang kerendahan hati. Namun, penulis menemukan kekuatan jiwa sekaligus kekuatan sudut pandang di akhir puisinya dengan mengatakan “ingat kembali budi baiknya saat janin.” Penulis berusaha meraih seluruh hikmah dari kerendahan hatinya yang bernama peri daun.
Berkaca dari pengalaman batin penulis belia di atas, kita dapat mengatakan bahwa puisi adalah tempat paling baik untuk mengungkapkan isi hati yang terpaksa kau pendam tapi secara bersamaan kau bersembunyi di situ. Kau seolah memindahkan isi ruang hati, ke ruang hati lain:puisi. Jadi, puisi seperti hati yang tampak di permukaan dan ditafsrkan kebenarannya dengan cara berbeda—meski hanya pemilik hati dan Tuhan yang mengetahuinya. Kadangkala isi hati bisa kita tafsirkan bila orang itu membuat satu ekspresi berupa mimik muka atau tindakan, begitu juga puisi,. Seseorang bisa menafsirkan isi hati seseorang dengan melihat ekspresi berupa perumpamaan yang dia pakai. Syahdan saya ingin mengutip puisi, yang kira-kira cara menyampaikannya terlihat nyeleneh. Simak puisi Joko Pinurbo berikut:
Haduh, Aku Di-follow
Sudah lama telepon genggam saya mengenggam tangan saya.
Genggamannya lebih kuat dari genggaman tangan saya padanya
Apabila kita mencoba untuk menafsirkan puisi tersebut dengan berdasar keinginan ingin mengetahui sosok si penulis, sudah barangtentu kebanyakan di antara kita menangkap sosoknya sebagai sosok yang mungkin konyol, lucu, ataupun nyeleneh. Saya pun dalam pembacaan awal mengalami itu. Bahkan, sebelum saya paham kesadaran bahwa puisi bisa ditafsirkan dengan lebih dari dua makna, saya menangkap bahwa puisinya hanya membahas seputar orang yang sedang suka pegang telepon genggam. Namun, setelah saya mengalami satu pengalaman puitik, saya menemukan hal baru di dalamnya. Dan lebih kompleks lagi saya mendapati sosok si penulis adalah sosok yang sangat serius. Belum selesai, saya baca ulang kesekian kalinya, saya menemukan makna baru kembali. Bahwa pada “alat” hari ini kita menghamba. Kita telah tunduk pada ciptaan kita sendiri. Belum lagi selesai, saya disentuh daya tafsir transendental. Bahwa kita telah lalai terhadap apa yang kita punya, sehingga kita mementingkan kehidupan dunia. Setiap waktu bila saya kembali membuka peluang dari sudut pandang baru, saya mendapatkan pula daya tafsir baru. Dari sudut pandang cinta saya dapat, politik saya dapat, ekonomi saya dapat. Dan seterusnya. Namun, harus jujur saya katakan, pada tafsiran baru yang saya temukan, saya akan menghentikan tugas puisi itu mengungkap yang lain. Saya memfungsionalisasi daya tafsir itu terhadap sudut pandang yang saya ambil. Namun, saya tidak menutup kemungkinan untuk menambah tafsiran baru.
Dari penemuan-demi penemuan saya di atas, saya menemukan format konsep saya kemarin mengalami kejanggalan pada awalnya. Sebab di dalam puisi, saya merasa kreativitas tidak mengalami keterbatasan. Oleh itu, saya hampir membuat pernyataan “selain puisi, segalanya terbatas.” Namun kembali dengan kesadaran penuh saya mengungkapkan, bahwa kata adalah medium juga. Bahasa adalah medium juga. Dia mengalami keterbatasan. Dia sama dengan yang lainnya, adalah material yang kodratnya tetap. Lalu bagaimana mengatasi kondisi tersebut? Yang tersadari oleh saya adalah, persoalan ini adalah persoalan penulis dan pembaca. Pencipta dan penerima. Penulis berangkat dengan kesadaran ingin menyampaikan ide dan konsep ke dalam material bahasa dengan membebaskan pembacanya menafsirkan puisinya. Juga dia memiliki kesadaran untuk menciptakan sesuatu yang memiliki potensi dan peluang untuk bisa ditafsirkan, dikembangkan, diperalat menjadi lebih luas. Sedangkan pembaca memiliki kesadaran, bahwa puisi yang sedang dibacanya, setiap waktu memiliki potensi untuk dipandang dengan cara berbeda. Diperlakukan dengan cara berbeda. Sehingga puisi itu terus berkembang menjadi sesuatu yang lebih kaya, dinamis, dan istimewa. Kemudian pertanyaannya, bagaimana kita membuktikan apa yang kita ciptakan mengalami perkembangan? Atau saya mulai masuk ke topik—bagaimana kita membuktikan apa yang kita ciptakan telah mengalami proses kretaivitas? Tentu kembali pada jawaban hukum alam yang telah ada, “biar publik yang menilai, biar waktu yang menjawab.”
Begitu juga konsep menulis puisi di atas, yang berkaca dari pengalaman batin penulis belia kita.
Kesadaran puitik mampu membuat seseorang memproyeksikan ide, konsepnya—bahkan persaaan, menjadi sesuatu yang konkret dengan ketangkasan dan kelihaian ia menggunakan kata sebagai materilnya. Kesadaran yang ada, bukan hanya perihal kesadaran kosong belaka, namun kesadaran ingin mengungkapkan keresahan. Kesadaran kejanggalan. Kesadaran keterbatasan. Kesadaran nilai ideal. Kesadaran ingin mengubah. Kesadaran resolusi. Kesadaran pembaharuan. Kesadaran otentisitas. Kesadaran yang berangkat dari jiwa dan pikiran. Kesadaran puitik.
Diakhir bab ini saya ingin kembali merumuskan sedikit atau menggunakan bahasa konseptual dengan materil agar konsep saya tentang kesadaran puitik mampu dipandang lebih jelas. Tulisan saya beberpa waktu lalu mengatakan, kerativitas adalah abstraksi dari ketidakterbatasan terhadap material. Kreativitas mengubah sesuatu yang terbatas—dengan kesadaran pembaharuan atau semangat ketidakterbatasan—menjadi batasan baru. Namun, tetap terbatas. Dengan melihat konsep kesadaran puitik saya tadi, saya sebagia penulis kira-kira dapat mengkatan jawaban dari apa yang dimaksud dengan abstraksi ketidakterbatasan atau apa yang dimaksud dengan semangat pembaharuan;mampu dijawab oleh kesadaran puitik yang penuh. Di mana kita memiliki kesadaran “keberlanjutan” tanpa henti. Kesadaran puitiklah kira-kira jawaban saya tentang manifestasi kreativitas. Namun, pertanyaan dan tanggapan masih tetap bergulir. “Definisi kesadaran puitik saja tidak kita ketahui sejak awal, bagaimana mengetahui bahwa kesadaran puitik adalah manifestasi kreativitas? Sekali lagi, tulisan saya dan mungkin saya boleh mengatakan kreativitas itu sendiri, memerlukan keterlibatan diri untuk mengetahui dengan jelas bagaimana sistemnya bergerak. Saya sudah mengalaminya dan saya menemukan konsepsi-konsepsi tentang kesadaran puitik. Dan pada puncaknya keterlibatan diri saya, saya merasa segala material yang ada di semesta adalah puisi, hanya saja kita lupa memberinya nama dan judul.
