
Author : Miqdad Robbani
Banyak argumen yang berpendapat bahwa pandemic membuat kita sadar bahwa ekonomi tidak bisa berdiri sendiri tanpa aspek pendukung dimana salah satunya adalah kesehatan. Bagaimana tidak? Berbagai tempat usaha harus dihentikan dengan tujuan untuk mengurangi tingkat penyebaran pandemi yang sangat masif ini. Pada akhirnya, para pelaku usaha tidak bisa memaksakan kegiatan usahanya karena taruhannya nyawa.
Namun, pertanyaan terbesar kita, apakah ini pandemi benar-benar membuat kita belajar bahwa uang bukan segalanya? Kemungkinan besar tidak. Dibandingkan menjadikan momen penyebaran pandemi ini sebagai momen untuk belajar dan meningkatkan sustainabilitas perekonomian dengan menyadari bahwa perekonomian tidak bisa berdiri sendiri, kita mungkin akan menganggap momen covid-19 ini sebagai sebuah beban. Sebuah perjuagan yang harus dikompensasi setelah masa ini berlalu. Sebagai contoh: euforia kita yang Ingin berpariwisata setelah momen pandemi berlalu sudah digaungkan diberbagai social media. Sebuah pemabalasan dendam dari #dirumahaja.
Berpariwisata mungkin tidak menjadi sebuah masalah. Itu hal baik. Tapi bagaimana jika momen balas dendam ini juga terjadi dalam perekonomian. Pandemi ini mungkin hanya akan dianggap sebagai sebuah beban yang harus dikompensasi dengan meningkatkan proses produksi kita secara gila-gilaan setelah masa pandemi. Peningkatan proses produksi ini bisa dieksploitasi secara sporadis dan mengesampingkan banyak hal, khususnya aspek sustainability development yang telah lama kita cicil selama beberapa tahun terakhir. Yap, pembangunan dengan iming-iming pemberdayaan lingkungan dan humanisasi mungkin akan terlupakan. Maksimalkan kembali pembukaan lahan, tingkatkan jam kerja karyawan, lupakan pembiayaan usaha kecil menengah merupakan sedikit contoh skenario post-pandemic untuk meningkatkan kapasitas produksi kita. Definisi sustainability development kita akan mundur beberapa langkah karena yang terpenting adalah mengembalikan kapasitas produk. Kita harus mengkapitalisasi semuany! Lagipula, bagaimana bisa memikirkan orang lain ketika perut sendiri kelaparan bukan?
Yah, itu semua tadi adalah skeptisme prematur dari kondisi post-pandemic. Mari kita berharap kita memanfaatkan covid sebagai momen belajar. Belajar bahwa perekonomian tidak pernah berdiri sendiri. Jagan sampai kita hanya menjadi anak kecil yang bersabar dalam berpuasa hanya untuk balas dendam saat lebaran.
