
Author : Radhi Inzaghi
Entah sudah berapa lama kita merindukan dunia normal, apalagi lagi masa-masa Ramadhan gini. Kangen terawehan di mesjid, rindu beli takjil di pinggir jalan, kangen sama suara petasan yang suka dimainin bocah-bocah pas lagi teraweh, pokoknya banyak kangennya lah. Tapi dari rindunya kita sama dunia luar tadi kira-kira kita yakin gak kalo setelah pandemi ini usai dunia ini bakal baik-baik aja kayak semula?
Mungkin banyak yang ngira kalo misal pandemi ini udah kelar dunia bakal baik-baik aja. Kalo diibaratin, mungkin dunia kita sebelumnya tuh kayak lagi naik kendaraan yang sedang jalan lurus dan alus, adem, ayem tanpa gangguan dan belokan, trus pandemi ini tuh ibarat polisi tidur atau jeglukan yang tiba-tiba bikin kendaraan kita jadi terasa sedikit terganggu, kemudian berharap setelah lewatin polisi tidur kendaraan kita bisa jalan seperti layaknya semula.
Ada sebuah artikel yang yang ditulis Thomas Pueye judulnya “The Hammer and the Dance”. Apa Itu The Hammer and the Dance? Jadi The Hammer and the Dance merupakan sebuah konsep yang ditulis sama Thomas Pueye tentang kehidupan kita setelah pandemi ini selesai.
PSBB yang diberlakukan sama negara kita ini atau yang kalo di negara lain disebut Lockdown merupakan contoh dari tahapan pertama yang kita lalui atau disebut dengan “The Hammer”. Dimana pada tahap ini pemerintah melakukan tindakan keras dengan memartil kurva biar gepeng. Tapi pada tahap ini gak mungkin semua orang bakal bertahan lama termasuk pemerintah. Ada masa dimana kita pengen balik lagi berinteraksi sosial kayak dulu, bahkan pemerintah pun gak akan kuat karena roda perekonomian pun mandeg, yang mana bisa-bisa bikin negara ambruk. Nah dikarenakan hal tsb masuk lah kita ke tahap yang kedua atau disebut juga “The Dance”. Di tahap kedua ini maksudnya walaupun misal PSBB atau Lockdown udah diangkat sama pemerintah, kita harus tetap hidup berdampingan dengan ancaman virus di sekitar kita. Disini dia dance nya, jadi pada tahap tersebut kita harus pinter-pinter ngelangkah maju atau mundur layaknya orang yang lagi dansa sama lawannya.
Jadi yang kita anggap abis pandemi ini selesai hidup kita bakal mulus lagi kayak jalanan yang abis kena polisi tidur, ternyata enggak. Justru jalanan setelah polisi tidur itu banyak batu-batunya, kerikil, lobang dsb.
Trus dansa yang seperti apa yang harus kita lakuin? Contoh dansa yg paling mudah itu adalah orang-orang harus mengenakan masker kalau berpergian kemana-mana, kebersihan harus terus dijaga, wajib cuci tangan sebelum bersentuhan dengan orang lain. Contoh dansa yg susah, aturan-aturan social distancing di tempat umum harus dilakukan, kegiatan berkurumunan besar ditiadakan, berpergian antar negara harus sangat dikendalikan. Dan yg paling penting testing harus murah dan harus ada dimana-dimana.
Butuh berbulan-bulan atau bahkan tahunan setelah ditemukannya vaksin baru kita bisa desek-desekan lagi. Nonton konser kah, pertandingan sepak bola atau yang lainnya. Dan hal seperti ini sudah banyak disebut-sebut sebagai “The New Normal”. Memang berat, tapi ya mau gimana lagi. Semoga dengan mengetahui lebih awal kita jadi lebih bersiap menghadapinya.
Oiya tulisan ini terinspirasi dari vidio salah satu akun di Twitter.
