
Author : Jampres
Kerap kali, agama terbesar di Indonesia ini berbenturan dengan kebudayaan. Mari kita angkat misalnya pada awal-awal perumusan pancang-pancang nilai kenegaraan Indonesia seperti Pancasila dan Undang-undang. Saat itu Latuharhary bercerita bahwa nilai-nilai Islam tak dapat diterima oleh kebudayaan masyarakat Minang, sebutlah budaya warisan masyarakat minang. Persoalan yang diangkat Latuharhary hanya satu, dari banyaknya deburan nilai Islam dengan nilai kebudayaan Indonesia. Kalo mau disebut lebih banyak lagi, ada ngaben, lomban, tumbal, grebegan dan sederet adat-istiadat tahunan, sesajenan, pemujaan pada senjata tradisional. Baik budaya yang lahir dari masyarakat non-islam maupun budaya dari masyarakat Islam yang tercampur dengan nilai-nilai animisme.
Dari kalangan muslim hari ini pun, secara tegas nya menghukumi dengan “syirik” yang maksudnya bertentangan pada nilai ke-Esaan Allah. Meskipun ini dinilai syirik, masyarakat Indonesia yang kental kesukuan nya menganggap ini adalah sebuah adat-istiadat. Manakah yang benar? Yang satu mengatakan “Ini tindakan menjerumuskan kekafiran” yang satu lagi mengatakan” ini adalah kebudayaan yang harus dilestarikan, ini adalah identitas kita, budaya ini sudah ada terlebih dahulu di suku sebelum adanya Islam”. Lantas perselisihan ini terus bergulir tak ada ujungnya. Saya rasa perlu, mengentaskan nya dengan cara kita berpikir kembali, apa itu kebudayaan?
Pada kongres kebudayaan, Moh Hatta mengartikan kebudayaan seperti orang Amerika atau Inggris menyebutnya culture. Apa itu? Culture memiliki pertalian dengan nature. Untuk membedakannya, lihatlah gunung-gemunung, bukit-bukit, Padang rumput, dan laut. Juga rasakanlah hempasan udara. Semua yang anda rasakan dan lihat pada alam adalah disebut nature. Sedangkan alihkan perhatian anda pada Bandaran, bendungan, kincir angin, tanah yang berpetak-petak, itu semua adalah culture atau yang kita sebut dengan kebudayaan. Kalau begini, kita sadar bahwa kebudayaan amatlah luas, maka kebudayaan artinya adalah semua hasil dari buah pikiran manusia dan produksi tangan manusia dalam mengonversikan alam sebagai “bahan mentah”. Berarti budaya bukan hanya tentang seni rupa, adat istiadat, seni tari, upacara adat dan baju kebesaran suku, melainkan begitu luasnya makna kebudayaan, yakni setiap hasil dari pikiran manusia.
Namun doktrin komunis mengartikan agama termasuk pada kebudayaan, artinya agama adalah buatan tangan manusia yang bersangkut paut pada ekonomi. Betulkah begitu?
Intisari ajaran agama Islam, mendidik juga membimbing penganutnya pada kalimat “laa ilaaha illallah”. Tiada Tuhan melainkan Allah. Dengan begitu, agama ini menghentikan penganutnya untuk beribadat atau menyembah pada selain Allah lewat wahyu dari Tuhan, bukan dari pikiran manusia. Karena yang selain Allah hanyalah alam belaka, hanyalah nature. Manusia pun sebagai ciptaan tuhan, maka sesama nature, sesama ciptaan tidak bisa saling menyembah, tidak bisa manusia beribadah dan bersesajen kepada laut karena laut dianggap memberikan rezeki dan karunia pada manusia. Padahal manusia dan laut itu sesama nature, sesama ciptaan Tuhan. Maka adat-istiadat yang mengajak pada penyembahan kepada alam, tidak bisa dibenarkan pada ajaran Islam.
Kalau begitu, benarkah Islam menentang kebudayaan? Jawaban nya, tidaklah begitu. Adat istiadat hanyalah salah satu bentuk kebudayaan. Sedangkan Allah tidak menganggap sempurna seorang keimanan tanpa amal atau produksi tangan manusia menuju pada perbaikan dunia. Artinya iman adalah sebagai pemberi cahaya bagi akal Budi. Hingga akhirnya muslim yang beriman, akan membuat skema pertanian, kelautan, perikanan, industri, pembangkit listrik, tenaga kesehatan, tehnik dan teknologi dalam rangka peningkatan kualitas hidup manusia, pemanfaatan sumberdaya, sekaligus memelihara alam. Bukan kah ini definisi terluas dari kebudayaan?
Jelaslah begitu, muslim adalah makhluk yang seutuhnya berbudaya. Tidak ada pertentangan antara Islam dan budaya. Justru Islam mengajak pada kebudayaan. Lantas bagaimana adat-istiadat yang mengajak pada penyembahan kepada alam? Kalimat laa Ilaha Illallah tidak bisa ditukar apapun dari hati muslim.
